TUC0GUAlGSY6Gpz8TUGoGUC8TY==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Stimulasi Bahasa Anak: Kunci Penting di Era Gawai Dominan

Featured Image

Perkembangan Anak Usia Dini dan Peran Orang Tua

Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini, kebutuhan akan stimulasi tumbuh kembang yang menyenangkan semakin menjadi perhatian banyak orang tua muda. Masa balita merupakan periode penting bagi perkembangan anak, bukan hanya dari sisi motorik dan kognitif, tetapi juga kemampuan berbahasa. Banyak orang tua saat ini masih khawatir terhadap perkembangan kemampuan bicara anak di usia dini. Karena itu, pengalaman bermain yang tepat dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung stimulasi tersebut.

“Ini bukan cuma mengasah kreativitas, tapi juga ada hal penting lain yaitu kemampuan bahasa. Orang tua sekarang banyak yang khawatir soal perkembangan anak usia balita, bukan hanya kognitif dan motorik, tetapi juga bahasa, apakah anak bisa bicara dengan baik. Karena itu, kami melihat belajar dan stimulasi perlu dibuat menjadi pengalaman yang menyenangkan, baik untuk anak maupun orang tua,” ujar Chrisanti Indiana, CEO Lilla, saat ditemui di booth Lilla Mal Kota Kasablanka, Jakarta.

Pendidikan Orang Tua yang Lebih Terbuka

Menurut Chrisanti, orang tua muda saat ini jauh lebih teredukasi dibanding generasi sebelumnya. Akses informasi mengenai parenting, kesehatan, dan tumbuh kembang anak juga kini jauh lebih terbuka. Namun di sisi lain, banyak orang tua baru justru merasa kewalahan karena terlalu banyak informasi yang harus dipahami. Kondisi itulah yang membuat banyak orang tua akhirnya melakukan riset lebih dalam sebelum memilih produk atau aktivitas untuk anak.

Lilla hadir dengan pendekatan yang berupaya mempermudah pengalaman menjadi orang tua. Pendekatan ini dibangun dengan menyesuaikan kebutuhan ibu dan anak berdasarkan tahapan motherhood, bukan sekadar kategori produk. Pengalaman berbelanja di Lilla dibagi berdasarkan fase kehamilan, menyusui, MPASI, hingga little ones yang berfokus pada tumbuh kembang anak. Setiap tahap memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatannya pun tidak bisa disamakan.

“Motherhood itu sebenarnya bukan soal kategori, melainkan tahapan. Kebutuhan ibu saat hamil tentu berbeda dengan kebutuhan ketika anak sudah lahir, begitu juga saat memasuki fase tumbuh kembang. Karena itu kami mencoba membuat pengalaman parenting menjadi lebih sederhana dan relevan dengan kebutuhan di setiap tahap,” jelas Chrisanti.

Keamanan Produk sebagai Prioritas Utama

Selain menyederhanakan pengalaman, Chrisanti menegaskan bahwa Lilla juga menempatkan aspek keamanan produk sebagai prioritas utama. Menurut dia, seluruh produk yang dijual harus melalui proses kurasi yang ketat dan memiliki sertifikasi sesuai kategori. Produk perawatan ibu dan bayi, misalnya, wajib memiliki izin dari BPOM. Sementara mainan atau produk yang bersentuhan langsung dengan bayi harus memenuhi standar SNI.

Chrisanti mengatakan pihaknya tidak akan menjual produk yang belum memiliki sertifikasi, meskipun sedang populer di pasaran. Langkah itu dilakukan agar orang tua baru lebih percaya diri saat memilih kebutuhan anak. “Buat kami, keamanan adalah nomor satu. Produk boleh saja sedang tren atau banyak dicari, tetapi kalau tidak punya sertifikasi yang tepat, kami tidak akan membawanya. Kami ingin para orang tua baru lebih sadar, lebih kritis, dan bisa memilih dengan lebih percaya diri,” tegas Chrisanti.

Tantangan Baru dalam Pola Pengasuhan

Di tengah tren orang tua muda dari kalangan generasi Z yang kini mulai banyak memasuki fase parenting, tantangan juga ikut berubah. Banyak dari mereka tetap aktif bekerja sehingga penggunaan perangkat digital kerap menjadi pilihan praktis untuk mengalihkan perhatian anak. Chrisanti menilai kondisi tersebut menjadi tantangan baru dalam pola pengasuhan masa kini. Karena itu, dia melihat pentingnya menghadirkan aktivitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu mendukung proses belajar, interaksi, dan perkembangan bahasa anak sejak dini.

Stimulasi Bahasa Anak: Kunci Penting di Era Gawai Dominan

0

0 Komentar untuk "Stimulasi Bahasa Anak: Kunci Penting di Era Gawai Dominan"